Menunaikan ibadah haji adalah impian terbesar setiap Muslim Indonesia. Namun, satu pertanyaan yang paling sering muncul sebelum seseorang memutuskan untuk mendaftar adalah: berapa lama waktu tunggu haji reguler di Indonesia? Jawabannya mungkin mengejutkan Anda — bahkan menyentuh puluhan tahun di beberapa provinsi. Di tengah tingginya antusias umat Islam Indonesia untuk menyempurnakan rukun Islam kelima ini, memahami sistem antrean haji menjadi langkah awal yaang sangat penting. Artikel ini akan mengulas secara lengkap estimasi waktu tunggu haji reguler per provinsi, perbedaan haji ONH reguler vs plus vs furoda, cara daftar haji BPIH online, biaya haji 2025 resmi Kemenag, serta tips haji untuk lansia agar Anda bisa merencanakan perjalanan suci ini dengan lebih matang dan bijak.
Mengapa Waktu Tunggu Haji Reguler di Indonesia Begitu Panjang?
Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, degan jumlah penduduk beragama Islam mencapai lebih dari 240 juta jiwa. Tidak mengherankan jika antrean haji di Indonesia menjadi salah satu yang terpanjang di dunia. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan panjangnya waktu tunggu haji reguler ini:
1. Kuota Haji yang Terbatas
Arab Saudi menetapkan kuota haji internasional berdasarkan rasio 1 per 1.000 penduduk Muslim per negara. Untuk Indonesia, kuota haji reguler yang diberikan sekitar 203.320 kursi per tahun (data 2024–2025 setelah pemulihan penuh pasca pandemi). Meski angka ini tergolong besar, tetap jauh di bawah jumlah pendaftar aktif yang terus bertambah setiap harinya.
2. Jumlah Pendaftar Baru yang Terus Bertambah
Setiap tahun, ratusan ribu calon jamaah baru mendaftar haji reguler. Berdasarkan data Kementerian Agama RI, jumlah pendaftar aktif dalam sistem antrean haji nasional telah melampaui angka 5 juta orang. Ini berarti meski setiap tahun ratusan ribu jamaah berangkat, tetap ada jutaan orang yng masih menunggu giliran.
3. Kebijakan Usia dan Prioritas
Sistem haji Indonesia menerapkan skema first in, first out berdasarkan nomor porsi pendaftaran. Artinya, semakin awal Anda mendaftar, semakin cepat giliran Anda tiba. Namun ada juga kebijakan prioritas bagi jamaah lanjut usia (lansia) yang sudah mendaftar lama namun belum berangkat.
Estimasi Waktu Tunggu Haji Reguler Per Provinsi 2025
Waktu tunggu haji reguler di Indonesia tidak sama di setiap provinsi. Perbedaan ini sangat signifikan karena bergantung pada jumlah pendaftar aktif dan kuota yang dialokasikan untuk masing-masing kabupaten/kota. Berdasarkan data resmi Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Kementerian Agama RI, berikut adalah gambaran estimasi waktu tunggu haji reguler per provinsi di Indonesia pada 2025:
Provinsi dengan Waktu Tunggu Terpanjang:
- Sulawesi Selatan: Estimasi 35–40 tahun, menjadikannya salah satu yang terpanjang di Indonesia. Hal nii karena tingginya minat masyarakat Sulawesi Selatan untuk berhaji sejak dini.
- Kalimantan Selatan: Estimasi 30–38 tahun. Provinsi ini memiliki tradisi mendaftar haji sejak usia muda yang sangat kuat.
- Kalimantan Timur: Estimasi 28–35 tahun.
- Sulawesi Tenggara: Estimasi 27–33 tahun.
- Jawa Tengah: Estimasi 25–32 tahun, terutama di kabupaten-kabupaten dengan populasi Muslim yang padat seperti Brebes, Cilacap, dan Banyumas.
Provinsi dengan Waktu Tunggu Menengah:
- Jawa Timur: Estimasi 18–25 tahun, bervariasi per kabupaten/kota.
- Jawa Barat: Estimasi 18–28 tahun, dengan daerah seperti Garut dan Cianjur memiliki antrean lebih panjang.
- DKI Jakarta: Estimasi 15–22 tahun.
- Sumatera Barat: Estimasi 20–25 tahun.
- Aceh: Estimasi 18–24 tahun.
Provinsi dengan Waktu Tunggu Relatif Lebih Singkat:
- Papua: Estimasi 10–15 tahun.
- Maluku: Estimasi 12–16 tahun.
- Papua Barat: Estimasi 8–13 tahun.
- Kepulauan Riau: Estimasi 12–18 tahun.
Penting untuk diingat bahwa angka-angka ini adalah estimasi dan bisa berubah tergantung kebijakan kuota dari Arab Saudi, jumlah pendaftar baru, serta kebijakan pemerintah Indonesia. Untuk mengetahui estimasi keberangkatan yang akurat berdasarkan nomor porsi Anda, kunjungi langsung portal SISKOHAT di haji.kemenag.go.id atau cek melalui aplikasi Pusaka Kemenag.
Perbedaan Haji ONH Reguler vs Plus vs Furoda
Banyak calon jamaah yang belum sepenuhnya memahami perbedaan antara ketiga jalur haji yang tersedia di Indonesia. Memahami perbedaan haji ONH reguler vs plus vs furoda sangat penting agar Adna bsia memilih jalur yang paling sesuai dengan kondisi keuangan, usia, dan kemampuan fisik Anda.
1. Haji Reguler (ONH Reguler / BPIH Reguler)
Haji reguler adalah program haji yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah melalui Kementerian Agama RI. Inilah jalur haji yang paling banyak diminati karena biayanya relatif terjangkau. Namun, konsekuensinya adalah waktu tunggu yang sangat panjang seperti yang telah dijelaskan di atas. Masa tinggal di Arab Saudi untuk haji reguler umumnya sekitar 40 hari. Fasilitas yang diberikan bersifat standar: akomodasi di pemondokan dengan jarak menengah ke Masjidil Haram, transportasi bus bersama, dan katering yang sudah diatur oleh pemerintah.
2. Haji Plus (ONH Plus / BPIH Khusus)
Haji plus atau haji khusus diselenggarakan oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) yang telah mendapat izin resmi dari Kementerian Agama. Waktu tunggu haji plus jauh lebih singkat dibandingkan haji reguler, yakni berkisar antara 5–9 tahun tergantung penyelenggara dan kebijakan kuota. Masa tinggal di Arab Saudi lebih singkat, sekitar 25–26 hari, namun dengan fasilitas yang jauh lebih premium. Jamaah biasanya menginap di hotel bintang empat atau lima yang sangat dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Biaya haji plus berkisar antara USD 8.000 hingga USD 15.000 atau lebih per orang, tergantung paket yang dipilih.
3. Haji Furoda (Haji Mujamalah)
Haji furoda adalah jalur haji menggunakan visa haji undangan (mujamalah) yang diberikan langsung oleh Pemerintah Arab Saudi kepada individu atau lembaga tertentu, bukan melalui kuota resmi pemerintah Indonesia. Keunggulan utama haji furoda adalah tanpa antrean — Anda bisa berangkat haji pada tahun yang sama saat mendaftar. Namun biayanya sangat tinggi, bisa mencapai USD 15.000–25.000 per orang. Haji furoda memiliki risiko tersendiri karena regulasinya tidak berada di bawah pengawasan langsung Kemenag RI. Jika Anda memilih jalur ini, pastikan menggunakan agen perjalanan yang benar-benar terpercaya dan memiliki rekam jejak yang baik untuk menghindari penipuan.
Cara Daftar Haji BPIH Online: Langkah demi Langkah
Bagi Anda yang ingin segera mendaftarkan diri, berikut adalah panduan lengkap cara daftar haji BPIH online melalui sistem resmi pemerintah. Semakin cepat Anda mendaftar, semakin awal nomor porsi Anda, dan semakin dekat giliran keberangkatan Andaa
Langkah 1: Siapkan Dokumen yang Diperlukan
Sebelum mendaftar, pastikan Anda telah menyiapkan dokumen berikut:
- KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang masih berlaku
- Kartu Keluarga (KK)
- Buku tabungan dari bank yang ditunjuk sebagai Bank Penerima Setoran (BPS) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH)
- Pas foto terbaru ukuran 3×4 cm berlatar belakang putih
Langkah 2: Buka Rekening Tabungan Haji di BPS BPIH
Kunjungi salah satu bank yang ditunjuk sebagai BPS BPIH. Bank-bank tersebut antara lain Bank BRI Syariah (BSI), Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, Bank Muamalat, serta bank-bank syariah daerah lainnya. Buka rekening tabungan haji dan setorkan dana awal setoran awal BPIH. Setoran awal untuk haji reguler adalah sebesar Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah). Dana ini akan disimpan dan dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Langkah 3: Verifikasi ke Kantor Kemenag Kabupaten/Kota
Setelah menyetorkan dana awal, kunjungi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di kabupaten atua kota tempat Anda berdomisili. Bawa semua dokumen asli beserta fotokopinya untuk dilakukan verifikasi data. Petugas akan memasukkan data Anda ke dalam SISKOHAT dan mencetak Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH).
Langkah 4: Dapatkan Nomor Porsi
Setelahh proses verifikasi selesai, Anda akan mendapatkan nomor porsi haji. Nomor porsi inilah yang menentukan urutan keberangkatan Anda. Simpan nomor porsi ini dengan baik karena akan digunakan untuk memantau perkembangan pendaftaran haji Anda.
Langkah 5: Pantau Status Keberangkatan Secara Online
Anda bisa memantau estimasi keberangkatan dan status antrean melalui:
- Website resmi: haji.kemenag.go.id
- Aplikasi Pusaka Kemenag yang tersedia di Google Play Store dan App Store
- Langsung menghubungi Kantor Kemenag setempat

Biaya Haji 2025 Resmi Kemenag: Berapa yang Harus Disiapkan?
Mengetahui biaya haji 2025 resmi Kemenag sangat penting dalam perencanaan keuangan jangka panjang Anda. Pada tahun 2025, pemerintah telah menetapkan besaran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang harus dibayarkan jamaah. Bipih ini merupakan bagian dari total BPIH yang sudah termasuk subsidi dari nilai manfaat dana haji yang dikelola BPKH.
Berdasarkan Keputusan Presiden dan penetapan resmi Kemenag RI untuk musim haji 2025, rata-rata Bipih (biaya yang ditanggung jamaah) untuk haji reguler adalah sekitar Rp 55.431.750 per jamaah. Nmaun angka ini bervariasi per embarkasi. Berikut gambaran kisaran biaya per embarkasi:
- Embarkasi Jakarta (JKG/JKS): Sekitar Rp 53–56 juta
- Embarkasi Surabaya (SUB): Sekitar Rp 55–58 juta
- Embarkasi Makassar (UPG): Sekitar Rp 56–60 juta
- Embarkasi Medan (MES): Sekitar Rp 54–57 juta
- Embarkasi Aceh (BTJ): Sekitar Rp 53–56 juta
Perlu dicatat bahwa total BPIH (termasuk bagian yang disubsidi dari nilai manfaat BPKH) jauh lebih besar, yakni sekitar Rp 89–95 juta per jamaah. Selisihnya ditanggung oleh pemerintah dari pengelolaan dana haji. Biaya yang perlu Anda bayarkan sendiri adalah sebesar Bipih yang telah ditetapkan ditambah setoran awal yang sudah dibayarkan saat pendaftaran. Pastikan untuk selalu mengikuti pengumuman resmi Kemenag RI karena biaya ini bisa berubah setiap tahunnya sesuai fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan kebijakan Arab Saudi.
Tips Haji untuk Lansia: Persiapan Ekstra untuk Jamaah Berusia 60 Tahun ke Atas
Mengingat panjangnya waktu tunggu haji reguler, tidak sedikit jamaah yang akhirnya berangkat dalam usia lanjut. Oleh karena itu, tips haji untuk lansia menjadi informasi yang sangat relevan. Ibadah haji secara fisik cukup menuntut, namun dengan persiapan yang tepat, jamaah lansia tetap bisa menjalankan ibadah dengan nyaman dan khusyuk.
1. Pemeriksaan Kesehatan yang Menyeluruh
Minimal 3–6 bulan sebelum keberangkatan, lakukan pemeriksaan kesehatan lengkap di Puskesmas atau rumah sakit. Pastikan tekanan darah, gula darah, fungsi jantung, dan kesehatan tulang dalam kondisi optimal. Konsultasikan dengan dokter mengenai obat-obatan yang perlu dibawa dan jadwal konsumsinya selama di Arab Saudi.
2. Manfaatkan Program Haji Ramah Lansia Kemenag
Kementerian Agama RI memiliki program khusus untuk jamaah lansia (berusia 65 tahun ke atas), termasuk pendampingan petugas khusus, kemudahan dalam pelaksanaan manasik haji, serta fasilitas kursi roda dan transportasi prioritas. Pastikan status lansia Anda tercatat dalam SISKOHAT agar mendapatkan layanan yang semestinya.
3. Latihan Fisik Secara Rutin Sejak Jauh Hari
Mulailah melatih fisik setidaknya 6 bulan sebelum berangkat. Fokus pada latihan berjalan kaki, karena selama ibadah haji dan umroh, jamaah akan banyak berjalan. Mulai dari 30 menit per hari, kemudian tingkatkan secara bertahap. Jika menggunakan kursi roda, tetap lakukan peregangan rutin untuk menjaga sirkulasi darah.
4. Pelajari Kemudahan (Rukhsah) dalam Fiqih Haji
Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi jamaah yang tidak mampu melaksanakan ibadah tertentu karena keterbatasan fisik. Misalnya, tawaf boleh dilakukan dengan kursi roda, sa’i pun demikian. Melempar jumrah bisa diwakilkan jika kondisi fisik tidak memungkinkan. Konsultasikan dengan pembimbing ibadah Anda untuk memahami rukhsah yang berlaku.
5. Jangan Memaksakan Diri di Cuaca Ekstrem
Suhu di Makkah dan Madinah bisa mencapai 45–50 derajat Celsius di musim panas. Bagi lansia, kondisi ini bisa sangat berbahaya. Selalu bawa air minum, gunakan payung, hindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari yang terik, dan kenali tanda-tanda dehidrasi serta heat stroke.
6. Daftarkan Diri dalam Kuota Pendamping Lansia
Jika memiliki anggota keluarga yang ingin mendampingi jamaah lansia, pastikan pendaftarannya dilakukan bersamaan atau melalui koordinasi dengan Kemenag setempat agar bisa berangkat dalam satu kloter atau kloter yang berdekatan.
Strategi Cerdas Agar Bisa Berangkat Haji Lebih Cepat
Meskipun antrean haji reguler sangat panjang, ada beberapa strategi yang bisa Anda pertimbangkan untuk mempercepat atau mengoptimalkan kesempatan menunaikan ibadah haji:
1. Daftar Sejak Dini
Ini adalah strategi paling mendasar. Semakin muda usia Anda saat mendaftar, semakin besar kemungkinan Anda masih dalam kondisi sehat saat giliran tiba. Tidak ada batasan usia minimum untuk mendaftar haji reguler bagi yang sudah dewasa, meski berangkat tentu harus menunggu giliran.
2. Pertimbangkan Haji Plus untuk Antrean Lebih Singkat
Jika kondisi keuangan memungkinkan, memilih haji plus bisa menjadi solusi untuk berangkat lebih cepat dengan waktu tunggu 5–9 tahun saja. Pastikan memilih PIHK yang resmi dan memiliki izin dari Kemenag RI. Anda bisa mengecek daftar PIHK resmi di website Kemenag.
3. Manfaatkan Kebijakan Prioritas Lansia
Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan percepatan keberangkatan bagi jamaah lansia yang sudah menunggu lama. Jika Anda atau orang tua Anda sudah mendaftar bertahun-tahun lalu dan kini sudah berusia 75 tahun ke atas, konsultasikan dengan Kemenag setempat tentang kemungkinan prioritas keberangkatan.
4. Pindah Domisili ke Daerah dengan Antrean Lebih Pendek
Secara teknis, nomor porsi Anda melekat pada kabupaten/kota tempat Anda mendaftar. Ini bukan strategi yang praktis bagi semua orang, tetapi perlu dipahami bahwa antrean sangat bervariasi antar daerah.
5. Laksanakan Umroh sebagai Persiapan Mental dan Spiritual
Sambil menunggu giliran haji, sangat dianjurkan untuk menunaikan ibadah umroh terlebih dahulu. Selain sebagai latihan spiritual dan fisik, umroh juga membantu Anda mengenal suasana Makkah dan Madinah, sehingga saat waktunya berhaji Anda sudah lebih siap secara mental. Dengan berbagai paket umroh yang tersedia dari agen resmi PPIU, Anda bisa mewujudkan kerinduan ke Tanah Suci tanpa harus menunggu giliran haji yang panjang.
Pertanyaan Umum Seputar Waktu Tunggu Haji Reguler
Apakah nomor porsi bisa dipindahtangankan?
Tidak. Nomor porsi haji bersifat personal dan tidak bisa dipindahtangankan kepada orang lain, termasuk ahli waris. Namun jika pemilik nomor porsi meninggal dunia, ahli waris dapat mengajukan pembatalan dan pengembalian setoran awal, atau dalam kondisi tertentu melanjutkan pendaftaran atas nama ahli waris (dengan persyaratan tertentu).
Apakah bisa mendaftar haji lebih dari satu kali untuk mendapatkan nomor porsi ganda?
Tidak. Sistem SISKOHAT dirancang untuk mencegah pendaftaran ganda menggunakan NIK yang sama. Satu orang hanya bisa memiliki satu nomor porsi haji reguler.
Bagaimana jika kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan berangkat saat giliran tiba?
Anda bisa mengajukan penundaan keberangkatan (tanpa kehilangan nomor porsi) dan menunggu hingga kondisi kesehatan membaik. Koordinasikan hal ini dengan Kantor Kemenag setempat.
Apakah setoran awal mendapatkan bagi hasil?
Ya. Dana setoran awal haji yang disimpan di bank syariah BPS BPIH akan mendapatkan bagi hasil sesuai akad yang berlaku. Dana ini kemudian dikelola oleh BPKH untuk menghasilkan nilai manfaat yaang digunakan untuk mensubsidi biaya haji.
Kesimpulan
Waktu tunggu haji reguler di Indonesia pada 2025 memang sangat panjang, berkisar antara 10 hingga 40 tahun tergantung provinsi tempat Anda mendaftar. Ini adalah kenyataan yang perlu diterima dan diantisipasi dengan perencanaan yang matang sejak dini. Kunci utamanya adalah daftar sesegera mungkin agar nomor porsi Anda semakin awal, dan sembari menunggu, persiapkan diri secara spiritual, fisik, dan finansial dengan sebaik-baiknya.
Memahami perbedaan haji ONH reguler vs plus vs furoda membantu Anda memilih jalur yang paling sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Jika ingin berangkat lebih cepat dan memiliki kemampuan finansial, haji plus bisa menjadi pilihan bijak. Bagi yang berencana mendaftar, ikuti panduan cara daftar haji BPIH online melalui SISKOHAT dan bank syariah BPS resmi. Pastikan juga Anda selalu mengikuti informasi terbaru mengenai biaya haji 2025 resmi Kemenag agar bisa mempersiapkan anggaran dengan tepat.
Bagi jamaah lansia, jangan khawatir — dengan persiapan yang tepat dan memanfaatkan program prioritas serta kemudahan fiqih (rukhsah), ibadah haji tetap bisa ditunaikan dengan penuh kekhusyukan. Dan bagi yang haruss menunggu lebih lama, manfaatkan masa tunggu ini dengan memperdalam ilmu manasik haji, memperbaiki kualitas ibadah sehari-hari, dan menunaikan umroh sebagai perjalanan spiritual sambil menunggu panggilan Allah SWT yang paling indah — panggilan untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah.
Semoga Allah SWT memudahkan perjalanan ibadah haji kita semua dan menerima setiap langkah ikhtiar yang kita lakukan. Labbaik Allahumma labbaik.