Tata Cara Sa’i Antara Shafa dan Marwah yang Shahih

Tata Cara Sa'i Antara Shafa dan Marwah yang Shahih

Tata Cara Sa’i Antara Shafa dan Marwah yang Shahih

Sa’i adalah salah satu rukun ibadah umroh dan haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jamaah. Tanpa melaksanakan sa’i, ibadah umroh maupun haji seseorang dinyatakan tidak sah. Namun sayangnya, masih banyak jamaah yang belum memahami tata cara sa’i yang benar dan shahih sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Kesalahan dalam pelaksanaan sa’i, mulai dari niat, titik awal, arah perjalanan, hingga doa yang dibaca, sering terjadi karena kurangnya persiapan ilmu sebelum berangkat. Artikel ini hadir sebagai panduan lengkap dan komprehensif tentang tata cara sa’i antara Shafa dan Marwah yang shahih, agar setiap langkah yang Anda tempuh di Tanah Suci bernilai ibadah yang sempurna di sisi Allah SWT.

Apa Itu Sa’i? Definisi dan Dasar Hukumnya

Sa’i secara bahasa berasal dari kata Arab yang berarti “berjalan cepat” atau “berusaha”. Secara istilah syariat, sa’i adalah berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.

Dasar hukum sa’i sangat kuat dalam Al-Qur’an dan hadits. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 158:

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Sementara itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Lakukanlah sa’i, karena Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi). Berdasarkan dalil-dalil ini, mayoritas ulama dari empat mazhab besar — Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali — sepakat bahwa sa’i merupakan rukun ibadah umroh dan haji yang wajib dilaksanakan dan tidak dapat digantikan dengan dam (denda) apabila ditinggalkan dengan sengaja.

Sa’i sendiri merupakan syiar yang memperingati perjuangan luar biasa Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS. Beliau berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air bagi putranya yang kehausan di tengah padang pasir yang tandus. Atas keteguhan iman dan usahanya, Allah SWT kemudian memancarkan air zamzam yang menjadi berkah luar biasa hingga hari ini.

Syarat Sah Sa’i yang Harus Dipenuhi

Sebelum melaksanakan sa’i, terdapat beberapa syarat sah yang harus dipenuhi oleh jamaah agar ibadah sa’i diterima dan bernilai sah secara syariat. Berikut adalah syarat-syarat tersebut:

1. Dilaksanakan Setelah Thawaf yang Sah
Sa’i harus didahului oleh thawaf yang sah, baik thawaf qudum (thawaf kedatangan untuk jamaah haji), thawaf umroh, maupun thawaf ifadhah. Sa’i yang dilakukan sebelum thawaf atau setelah thawaf yang tidak sah maka dianggap tidak memenuhi syarat. Ini berdasarkan praktik Rasulullah ﷺ yang selalu melakukan sa’i setelah menyelesaikan thawaf terlebih dahulu.

2. Dimulai dari Bukit Shafa
Sa’i wajib dimulai dari bukit Shafa, bukan dari Marwah. Jika seseorang memulai sa’i dari Marwah, maka putaran pertama tersebut tidak dihitung dan sa’i harus dimulai ulang dari Shafa.

3. Mencakup Seluruh Jarak antara Shafa dan Marwah
Jamaah harus memastikan bahwa setiap putaran sa’i mencakup seluruh jarak antara kedua bukit tersebut, termasuk titik start (Shafa) dan titik akhir (Marwah). Tidak sah jika ada bagian jalur sa’i yang terlewati meskipun hanya sedikit.

4. Dilakukan Sebanyak Tujuh Kali Putaran
Sa’i dilakukan tujuh kali, dengan perhitungan: perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, dan perjalanan kembali dari Marwah ke Shafa dihitung satu putaran lagi. Dengan demikian, sa’i berakhir di Marwah pada putaran ketujuh.

5. Dilakukan di Masa Haji atau Umroh
Sa’i hanya dilakukan dalam rangkaian ibadah haji atau umroh, bukan sebagai ibadah mandiri yang terlepas dari kedua ibadah tersebut.

Catatan penting: Berbeda dengan thawaf, sa’i tidak disyaratkan dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kecil menurut pendapat mayoritas ulama, meskipun lebih utama dan dianjurkan untuk berada dalam keadaan suci penuh (berwudhu) saat melaksanakannya.

Tata Cara Sa’i Langkah demi Langkah yang Shahih

Berikut adalah panduan lengkap tata cara sa’i antara Shafa dan Marwah yang shahih sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ:

Langkah 1: Selesaikan Thawaf Terlebih Dahulu
Pastikan Anda telah menyelesaikan thawaf dengan sempurna — tujuh putaran mengelilingi Ka’bah dimulai dari sudut Hajar Aswad — sebelum memulai sa’i. Setelah thawaf selesai, lakukan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan, kemudian minum air zamzam dan berdoa sejenak sebelum menuju Shafa.

Langkah 2: Menuju Bukit Shafa
Berjalanlah menuju bukit Shafa melalui pintu yang telah disediakan di Masjidil Haram. Saat ini, mas’a (tempat sa’i) telah dibangun menjadi gedung bertingkat yang luas dan modern untuk mengakomodasi jutaan jamaah. Ketika mendekati Shafa, bacalah ayat Al-Qur’an berikut:

“Innash-Shafa wal Marwata min sya’aa’irillah.”
(Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah.)

Kemudian ucapkan: “Nabda’u bimaa bada’allahu bihi.” (Kami memulai dengan apa yang Allah mulai dengannya.)

Langkah 3: Naik ke Bukit Shafa dan Berdoa
Naiklah ke atas bukit Shafa hingga Anda dapat melihat Ka’bah (jika memungkinkan). Hadapkan wajah ke arah Ka’bah, angkat kedua tangan, dan bacalah doa berikut ini:

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir. Laa ilaaha illallahu wahdah, anjaza wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah.”

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) seorang diri.”

Doa ini dibaca sebanyak tiga kali. Di antara pengulangan, Anda dapat berdoa dengan doa apapun yang Anda inginkan menggunakan bahasa apapun, karena momen ini adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Langkah 4: Mulai Berjalan Menuju Marwah (Putaran 1)
Turunlah dari Shafa dan mulailah berjalan menuju Marwah. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca sepanjang perjalanan sa’i, namun sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi ﷺ, atau berdoa dengan doa-doa yang Anda hafal.

Langkah 5: Berlari-lari Kecil di Area Khusus (Mas’a)
Di antara dua tanda lampu hijau (atau pilar hijau yang telah ditetapkan) yang berada di sekitar area lembah antara Shafa dan Marwah, laki-laki disunnahkan untuk berlari-lari kecil (harwalah) dengan kecepatan sedang. Sementara bagi perempuan, cukup berjalan biasa tanpa berlari. Setelah melewati tanda tersebut, kembali berjalan dengan langkah biasa hingga mencapai Marwah.

Langkah 6: Di Bukit Marwah (Akhir Putaran 1)
Naiki bukit Marwah, hadapkan wajah ke arah Ka’bah, dan bacakan doa yang sama seperti yang dibaca di Shafa. Ini menandai selesainya putaran pertama sa’i.

Langkah 7: Ulangi hingga Tujuh Putaran
Lanjutkan perjalanan bolak-balik antara Shafa dan Marwah. Ingat hitungan berikut dengan cermat:
– Putaran 1: Shafa → Marwah
– Putaran 2: Marwah → Shafa
– Putaran 3: Shafa → Marwah
– Putaran 4: Marwah → Shafa
– Putaran 5: Shafa → Marwah
– Putaran 6: Marwah → Shafa
– Putaran 7: Shafa → Marwah (SA’I BERAKHIR DI MARWAH)

Sa’i yang sah harus berakhir di Marwah pada putaran ketujuh. Jika Anda lupa hitungan, maka ikuti hitungan yang paling sedikit (yang lebih yakin) untuk memastikan sa’i Anda sempurna.

Doa dan Dzikir yang Dianjurkan Selama Sa’i

Meskipun tidak ada doa khusus yang diwajibkan sepanjang perjalanan sa’i (kecuali doa di atas Shafa dan Marwah), terdapat sejumlah doa dan dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca selama pelaksanaan sa’i:

1. Doa yang Dianjurkan Sepanjang Perjalanan Sa’i:

“Rabbighfir warham, innaka antal a’azzul akram.”
Artinya: “Ya Tuhan, ampunilah dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mulia dan Maha Pemurah.”

2. Doa Saat Berada di Area Lari Kecil (Antara Dua Tanda Hijau):

“Rabbighfir warham wa tajaawaz ‘ammaa ta’lam, innaka anta al-a’azzul akram. Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.”

3. Dzikir Umum yang Dapat Dibaca:
Selain doa-doa di atas, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak bacaan:
– Subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim
– Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah
– Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
– Istighfar (Astaghfirullaahal ‘azhiim)
– Bacaan Al-Qur’an yang dihafal

Momen sa’i adalah kesempatan emas untuk berdialog secara khusyu’ dengan Allah SWT. Curahkan isi hati Anda, sampaikan hajat dan keinginan Anda dalam bahasa yang Anda pahami, karena Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Memahami doa hamba-Nya dalam bahasa apapun.

Tata Cara Sa'i Antara Shafa dan Marwah yang Shahih - ilustrasi

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dan Kesalahan Umum dalam Sa’i

Banyak jamaah, khususnya yang baru pertama kali umroh, melakukan beberapa kesalahan dalam pelaksanaan sa’i. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dan kesalahan umum yang harus dihindari:

1. Salah Menghitung Putaran
Ini adalah kesalahan paling umum. Banyak jamaah kehilangan hitungan karena kelelahan, padatnya jamaah, atau kurangnya konsentrasi. Solusinya: gunakan tasbih digital untuk menghitung, atau minta bantuan anggota rombongan untuk menghitung bersama. Beberapa jamaah juga menandai setiap kali tiba di Marwah sebagai akhir putaran ganjil.

2. Memulai Sa’i dari Marwah
Sa’i yang dimulai dari Marwah tidak sah. Jika Anda menyadari hal ini setelah memulai, segera kembali ke Shafa dan mulai ulang sa’i dari awal.

3. Tidak Menyempurnakan Seluruh Jarak
Beberapa jamaah tidak menginjakkan kaki hingga ke titik paling ujung Shafa atau Marwah. Pastikan Anda benar-benar mencapai dan naik ke area bukit Shafa dan Marwah di setiap putaran, tidak hanya berhenti di kaki bukit.

4. Perempuan yang Berlari di Area Harwalah
Harwalah (berlari kecil) hanya disunnahkan bagi laki-laki, bukan perempuan. Perempuan cukup berjalan biasa sepanjang sa’i, termasuk di area antara dua tanda hijau.

5. Berhenti Terlalu Lama di Tengah Sa’i
Berhenti sejenak untuk beristirahat atau menunggu adalah diperbolehkan jika ada keperluan mendesak, namun sebaiknya sa’i dilakukan secara berkesinambungan tanpa jeda yang terlalu panjang. Jika terputus dalam waktu lama, sebagian ulama menganjurkan untuk mengulang dari awal.

6. Tidak Menghadap Ka’bah Saat Berdoa di Shafa dan Marwah
Saat berdiri di atas Shafa dan Marwah untuk berdoa, hadapkan wajah ke arah Ka’bah. Ini adalah sunnah yang banyak terlewatkan karena kondisi ramai.

7. Terburu-buru Tanpa Kekhusyukan
Sa’i bukan sekadar olahraga jalan kaki. Setiap langkah harus disertai hati yang hadir, mengingat perjuangan Siti Hajar dan menghayati makna tawakal kepada Allah SWT. Jaga kekhusyukan sepanjang perjalanan sa’i Anda.

Hukum Sa’i dengan Kursi Roda dan Kondisi Khusus

Bagi jamaah yang memiliki kondisi fisik tertentu, seperti lansia, penyandang disabilitas, atau jamaah yang sakit, terdapat beberapa ketentuan khusus terkait pelaksanaan sa’i:

Sa’i Menggunakan Kursi Roda:
Jamaah yang tidak mampu berjalan sendiri diperbolehkan melaksanakan sa’i dengan menggunakan kursi roda, baik yang didorong sendiri maupun didorong oleh pendamping. Hukum sa’i dalam kondisi ini tetap sah selama jamaah yang bersangkutan hadir secara fisik dan melewati seluruh jalur sa’i dari Shafa hingga Marwah. Layanan kursi roda tersedia di Masjidil Haram dengan sewa yang bisa diatur melalui pengelola haji atau pihak hotel.

Sa’i di Lantai Atas Mas’a:
Seiring perluasan mas’a, kini tersedia beberapa lantai untuk pelaksanaan sa’i. Sa’i di lantai atas (lantai dua atau tiga) hukumnya sah selama memenuhi semua syarat sa’i. Lantai atas biasanya lebih lengang dan lebih mudah dijangkau oleh jamaah lansia atau penyandang disabilitas menggunakan eskalator atau lift.

Sa’i bagi Perempuan yang Sedang Haid:
Berbeda dengan thawaf yang disyaratkan dalam keadaan suci, sa’i boleh dilakukan oleh perempuan yang sedang haid menurut pendapat mayoritas ulama, karena sa’i bukan ibadah yang mensyaratkan kesucian. Namun, ia tetap tidak boleh masuk ke dalam masjid. Perempuan yang sedang haid dapat langsung menuju mas’a melalui pintu yang tidak melewati area masjid utama.

Sa’i Diwakilkan:
Pada prinsipnya, sa’i tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Setiap jamaah harus melaksanakan sa’i dengan fisiknya sendiri. Hanya dalam kondisi benar-benar tidak mampu (sakit keras atau lumpuh total) dan ada kebijakan yang berlaku, persoalan ini dapat dikonsultasikan kepada ulama atau pembimbing ibadah yang mendampingi rombongan.

Makna dan Hikmah Spiritual di Balik Ibadah Sa’i

Memahami makna dan hikmah di balik setiap ibadah akan membuat pelaksanaannya menjadi jauh lebih bermakna dan khusyu’. Sa’i antara Shafa dan Marwah menyimpan hikmah-hikmah yang sangat dalam dan relevan bagi kehidupan seorang Muslim:

1. Teladan Tawakal Kepada Allah SWT
Sa’i mengingatkan kita pada kisah luar biasa Siti Hajar yang ditinggal sendirian di lembah tandus Makkah bersama bayi Ismail yang kehausan. Tanpa berputus asa, beliau berlari-lari mencari air — sebuah usaha maksimal dari seorang hamba yang pasrah kepada Tuhannya. Allah SWT kemudian memberikan mukjizat berupa air zamzam yang tak pernah habis. Pelajaran utamanya: tawakal yang benar adalah perpaduan antara usaha maksimal dan penyerahan diri total kepada Allah.

2. Semangat Berusaha dan Pantang Menyerah
Tujuh kali bolak-balik menggambarkan semangat yang tidak kenal lelah. Dalam kehidupan, kita pun diajarkan untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi ujian dan cobaan. Seperti Siti Hajar yang tidak berhenti pada percobaan pertama atau kedua, kita pun harus terus berusaha hingga mencapai hasil yang Allah takdirkan.

3. Pengingat Bahwa Pertolongan Allah Selalu Datang
Air zamzam yang muncul setelah perjuangan Siti Hajar adalah bukti nyata bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan beriman. Sa’i menjadi pengingat permanen bahwa tidak ada kondisi yang terlalu sulit bagi Allah untuk diselesaikan.

4. Kesetaraan dalam Ibadah
Sa’i dilakukan oleh semua jamaah tanpa memandang jabatan, kekayaan, atau status sosial. Raja dan rakyat jelata sama-sama berlari di antara Shafa dan Marwah. Ini adalah manifestasi nyata dari prinsip kesetaraan dalam Islam.

5. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah dariku manasik (tata cara ibadah haji/umroh) kalian.” Dengan melaksanakan sa’i sesuai tuntunan beliau, kita sedang menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dan mengikuti jejak langkah beliau di tempat yang sama.

Persiapan Fisik Sebelum Melaksanakan Sa’i

Sa’i menempuh jarak kurang lebih 450 meter untuk setiap putarannya, sehingga total tujuh putaran sa’i setara dengan sekitar 3,15 kilometer. Ini bukanlah jarak yang kecil, terutama bagi jamaah lanjut usia atau yang memiliki kondisi fisik terbatas. Oleh karena itu, persiapan fisik sangat penting:

Persiapan Sebelum Berangkat ke Tanah Suci:
Lakukan olahraga ringan secara rutin setidaknya 2–3 bulan sebelum keberangkatan, seperti jalan kaki 3–5 km per hari. Periksa kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk jantung, lutut, dan tekanan darah. Konsumsi suplemen yang direkomendasikan dokter untuk menjaga stamina selama perjalanan.

Pada Hari Pelaksanaan Sa’i:
Pastikan Anda telah beristirahat cukup sebelum memulai rangkaian ibadah. Konsumsi makanan bergizi secukupnya — tidak terlalu kenyang namun tidak lapar. Minum air zamzam sebelum memulai sa’i untuk mendapatkan berkah dan menjaga hidrasi. Gunakan alas kaki yang nyaman karena lantai mas’a sangat panjang dan berlapis marmer. Bagi jamaah perempuan, gunakan pakaian ihram yang longgar dan nyaman untuk bergerak.

Selama Sa’i:
Jaga kecepatan jalan yang sesuai dengan kemampuan fisik Anda. Tidak ada kewajiban untuk terburu-buru. Minum air di dispenser yang tersedia di beberapa titik sepanjang mas’a jika diperlukan. Jika merasa pusing atau tidak enak badan, segera cari tempat duduk yang tersedia dan beristirahat sejenak.

Kesimpulan

Sa’i antara Shafa dan Marwah adalah rukun ibadah umroh dan haji yang memiliki kedudukan sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan. Pelaksanaannya yang shahih dimulai dengan menyelesaikan thawaf, kemudian naik ke bukit Shafa, menghadap Ka’bah, membaca doa khusus sebanyak tiga kali, lalu berjalan menuju Marwah sebanyak tujuh putaran dengan berakhir di Marwah. Bagi laki-laki, disunnahkan berlari kecil di area antara dua tanda hijau, sementara perempuan cukup berjalan biasa sepanjang sa’i.

Selain memahami tata caranya secara teknis, yang tidak kalah penting adalah menghayati makna dan hikmah di balik setiap langkah sa’i. Ingatlah perjuangan Siti Hajar yang menjadi cikal bakal syiar agung ini — sebuah teladan tawakal, kegigihan, dan keimanan yang sempurna kepada Allah SWT. Dengan ilmu yang benar dan hati yang khusyu’, insya Allah setiap putaran sa’i Anda akan menjadi ibadah yang diterima dan mendatangkan pahala berlipat ganda.

Bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk umroh atau haji, pelajari seluruh tata cara ibadah dengan sungguh-sungguh sebelum berangkat. Ikuti manasik yang diselenggarakan oleh biro perjalanan umroh atau PPIU terpercaya, dan jangan ragu untuk bertanya kepada pembimbing ibadah yang mendampingi rombongan Anda. Persiapan yang matang — baik dari sisi ilmu, fisik, maupun mental — adalah kunci untuk mendapatkan umroh dan haji yang mabrur. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan bagi kita semua untuk menyempurnakan ibadah di Baitullah dan kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur dan umroh yang diterima. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Leave a Comment