
Tata Cara Umroh Lengkap Sesuai Sunnah Rasulullah
Umroh adalah salah satu ibadah yang sangat dirindukan oleh setiap Muslim di seluruh dunia, termasuk jutaan jamaah dari Indonesia. Disebut juga sebagai “haji kecil”, umroh memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam dan menjadi kesempatan luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di Tanah Suci. Namun, agar ibadah umroh diterima dan sah secara syariat, setiap jamaah wajib memahami tata cara umroh yang benar sesuai sunnah Rasulullah SAW. Artikel ini hadir sebagai panduan lengkap dan terperinci untuk Anda yang sedang mempersiapkan diri menunaikan umroh, mulai dari persiapan di miqat hingga selesai seluruh rangkaian ibadah.
Pengertian Umroh dan Keutamaannya dalam Islam
Secara bahasa, umroh (عُمْرَة) berasal dari kata yang berarti “mengunjungi” atau “memakmurkan”. Secara istilah syariat, umroh adalah mengunjungi Baitullah (Ka’bah) dengan niat ibadah, disertai pelaksanaan rangkaian ritual tertentu yang telah ditetapkan syariat Islam. Berbeda dengan haji yang hanya bisa dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu (bulan Dzulhijjah), umroh dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun.
Keutamaan umroh sangat besar sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits shahih. Rasulullah SAW bersabda: “Dari umroh ke umroh berikutnya adalah kafarat (penghapus dosa) bagi dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa menunaikan umroh di bulan Ramadhan setara pahalanya dengan haji bersama beliau. Maka dari itu, memahami tata cara umroh yang benar sesuai sunnah Rasulullah adalah hal yang tidak boleh diabaikan.
Rukun Umroh yang Wajib Dipenuhi
Sebelum membahas tata cara umroh secara rinci, penting untuk memahami terlebih dahulu rukun-rukun umroh. Rukun adalah bagian ibadah yang apabila ditinggalkan, maka ibadah tersebut menjadi tidak sah dan tidak bisa digantikan dengan dam (denda). Rukun umroh ada empat, yaitu:
1. Ihram — Yaitu niat memulai ibadah umroh yang disertai dengan mengenakan pakaian ihram. Ihram merupakan pintu masuk ke dalam ibadah umroh dan harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu miqat.
2. Thawaf — Yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jamaah.
3. Sa’i — Yaitu berjalan (atau berlari-lari kecil) antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan, dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.
4. Tahallul — Yaitu mencukur atau memotong rambut sebagai tanda berakhirnya ihram dan selesainya rangkaian ibadah umroh.
Selain rukun, ada pula wajib umroh, yaitu berihram dari miqat yang ditentukan. Jika jamaah melewati miqat tanpa berihram, maka wajib membayar dam berupa menyembelih seekor kambing. Memahami perbedaan antara rukun dan wajib umroh sangat penting agar ibadah Anda tidak cacat.
Persiapan Sebelum Ihram: Dari Indonesia hingga Miqat
Tata cara umroh yang benar dimulai jauh sebelum Anda tiba di Makkah. Persiapan yang matang adalah kunci agar ibadah berjalan lancar dan khusyuk. Berikut adalah langkah-langkah persiapan yang perlu Anda lakukan:
Mandi Sunnah (Ghusl) — Sebelum mengenakan pakaian ihram, sangat dianjurkan untuk mandi besar (ghusl) sebagai bentuk kebersihan dan kesucian diri. Mandi sunnah ini bisa dilakukan di bandara sebelum berangkat, atau saat tiba di miqat. Rasulullah SAW sendiri mandi sebelum berihram.
Mengenakan Pakaian Ihram — Bagi laki-laki, pakaian ihram terdiri dari dua lembar kain putih yang tidak berjahit: satu untuk bagian bawah (izar) dan satu untuk bagian atas (rida’). Bagi perempuan, pakaian ihram adalah pakaian yang menutup seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan, dengan warna yang sopan (umumnya putih). Perempuan tidak diperkenankan memakai cadar (niqab) atau sarung tangan saat ihram.
Shalat Sunnah Ihram — Sebelum berniat ihram, disunnahkan untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Pada rakaat pertama membaca Surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas.
Miqat — Miqat adalah batas tempat yang telah ditentukan syariat untuk memulai ihram. Bagi jamaah Indonesia yang terbang langsung ke Jeddah atau Madinah, miqat yang umum digunakan adalah Yalamlam (bagi yang terbang melewati arah tersebut) atau Bir Ali (Dzul Hulaifah) bagi yang berangkat dari Madinah. Saat pesawat mendekati miqat, biasanya pilot atau pramugari akan mengumumkan agar jamaah bersiap-siap berniat ihram.
Niat Ihram dan Bacaan Talbiyah
Setelah melakukan semua persiapan di miqat, tibalah saat untuk berniat ihram. Niat adalah rukun yang paling pokok dalam ihram. Niat dilakukan dalam hati dengan mengucapkan lafaz niat umroh:
Lafaz Niat Ihram Umroh:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً
“Labbaikallahumma ‘Umratan”
Artinya: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk menunaikan umroh.”
Setelah berniat, jamaah segera memperbanyak bacaan talbiyah. Talbiyah adalah syiar ihram yang sangat dianjurkan untuk terus dibaca dengan suara keras bagi laki-laki dan suara pelan bagi perempuan, sejak dari miqat hingga memulai thawaf. Bacaan talbiyah adalah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak.”
Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Setelah berniat ihram, jamaah wajib menjauhi semua larangan ihram. Larangan ihram bagi laki-laki antara lain: memakai pakaian berjahit, menutup kepala, memakai wangi-wangian, memotong rambut atau kuku, berburu binatang, berhubungan suami istri, dan akad nikah. Bagi perempuan, larangan tambahan adalah memakai cadar dan sarung tangan. Melanggar larangan ihram dapat mengakibatkan kewajiban membayar dam atau fidyah sesuai jenis pelanggarannya.
Tata Cara Thawaf yang Benar Sesuai Sunnah
Setibanya di Masjidil Haram, Makkah, rangkaian ibadah umroh dimulai dengan thawaf. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran berlawanan arah jarum jam (dari kanan ke kiri, dengan Ka’bah selalu di sebelah kiri jamaah). Berikut tata cara thawaf yang benar:
1. Masuk Masjidil Haram dengan Kaki Kanan — Ketika memasuki masjid, dahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid dan shalawat kepada Nabi SAW.
2. Menuju Hajar Aswad — Thawaf dimulai dan diakhiri di garis sejajar dengan Hajar Aswad. Terdapat garis berwarna coklat atau tanda tertentu di lantai masjid yang menandai posisi ini. Jika memungkinkan, cium atau usap Hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan karena kepadatan jamaah, cukup menghadap ke arah Hajar Aswad, mengangkat tangan kanan, dan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” atau “Allahu Akbar”.
3. Idhtiba’ bagi Laki-laki — Pada tiga putaran pertama thawaf, laki-laki disunnahkan melakukan idhtiba’, yaitu meletakkan kain rida’ di bawah ketiak kanan sehingga pundak kanan terbuka, dengan ujung kain disampirkan di pundak kiri.
4. Raml pada Tiga Putaran Pertama — Bagi laki-laki, disunnahkan melakukan raml (berjalan cepat dengan mengangkat dada dan menggerakkan bahu) pada tiga putaran pertama. Empat putaran sisanya dilakukan dengan berjalan biasa.
5. Berdoa Selama Thawaf — Selama thawaf, perbanyaklah berdoa, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca pada setiap putaran, namun terdapat berbagai doa yang dianjurkan. Salah satu doa yang sering dibaca di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah: “Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.”
6. Shalat Dua Rakaat Setelah Thawaf — Setelah menyelesaikan tujuh putaran thawaf, jamaah disunnahkan melaksanakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Jika kondisi tidak memungkinkan, shalat bisa dilakukan di tempat lain di dalam masjid. Pada rakaat pertama membaca Al-Kafirun, dan rakaat kedua membaca Al-Ikhlas.
7. Minum Air Zamzam — Setelah shalat, dianjurkan untuk minum air zamzam dengan niat yang baik dan berdoa. Rasulullah SAW bersabda bahwa air zamzam adalah sesuai dengan niat orang yang meminumnya.

Tata Cara Sa’i antara Shafa dan Marwah
Setelah selesai thawaf dan shalat dua rakaat, jamaah melanjutkan dengan ibadah sa’i. Sa’i adalah berjalan antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, mengikuti jejak perjuangan Siti Hajar yang berlari-lari mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Berikut tata cara sa’i yang benar:
1. Menuju Bukit Shafa — Sa’i dimulai dari bukit Shafa. Ketika mendekati Shafa, bacalah ayat: “Innas-shafa wal marwata min sya’a’irillah” (Q.S. Al-Baqarah: 158). Kemudian naiki bukit Shafa, menghadap Ka’bah, dan berdoa. Disunnahkan membaca takbir tiga kali: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” lalu membaca doa.
2. Berjalan Menuju Marwah — Turun dari Shafa dan berjalan menuju Marwah. Di antara dua tanda lampu hijau (yang menandai area tempat Siti Hajar berlari), laki-laki disunnahkan untuk berlari-lari kecil (harwalah), sementara perempuan berjalan biasa.
3. Di Atas Bukit Marwah — Sesampainya di Marwah, naiki bukit, menghadap Ka’bah, dan berdoa seperti di Shafa. Ini dihitung satu kali perjalanan.
4. Ulangi Tujuh Kali — Sa’i dihitung tujuh kali dengan ketentuan: Shafa ke Marwah = 1 kali, Marwah ke Shafa = 2 kali, dan seterusnya. Sa’i diakhiri di Marwah pada perjalanan ke-7.
5. Doa Selama Sa’i — Tidak ada doa khusus yang diwajibkan selama sa’i. Jamaah bebas berdoa dengan bahasa apapun sesuai kebutuhan dan hajatnya. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan kesungguhan dalam berdoa.
Tahallul: Mengakhiri Ihram dengan Memotong Rambut
Rangkaian ibadah umroh diakhiri dengan tahallul, yaitu memotong atau mencukur rambut. Tahallul menandai berakhirnya kondisi ihram, sehingga semua larangan ihram kembali menjadi halal. Ada dua jenis tahallul dalam hal pemotongan rambut:
Mencukur Habis (Halq) — Lebih utama dan lebih afdhal, terutama bagi laki-laki. Rasulullah SAW mendoakan tiga kali untuk orang yang mencukur habis rambutnya, dan hanya sekali untuk yang memotong sebagian.
Memendekkan Rambut (Taqshir) — Boleh dilakukan, yaitu memotong rambut minimal sepanjang tiga jari dari seluruh bagian kepala, atau sebagian rambut. Bagi perempuan, tahallul dilakukan dengan memotong rambut sepanjang satu ruas jari dari ujung rambut. Perempuan tidak boleh mencukur habis rambutnya.
Setelah tahallul selesai, maka sempurnalah rangkaian ibadah umroh. Jamaah kini telah keluar dari kondisi ihram dan boleh melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram. Sungguh merupakan momen yang penuh haru dan syukur, karena artinya Anda telah menyelesaikan ibadah yang luar biasa ini.
Larangan Saat Ihram dan Konsekuensinya
Memahami larangan saat ihram sangat penting untuk menjaga keabsahan ibadah umroh. Secara umum, larangan ihram terbagi untuk jamaah laki-laki dan perempuan:
Larangan Umum (Laki-laki dan Perempuan):
• Memakai wangi-wangian pada tubuh atau pakaian setelah niat ihram.
• Memotong atau mencabut rambut dan kuku.
• Membunuh atau berburu binatang darat yang halal dimakan.
• Melakukan hubungan suami istri (jima’) maupun hal-hal yang mengarah ke sana.
• Melakukan akad nikah (menikahkan diri sendiri, menikahkan orang lain, maupun menjadi wali nikah).
Larangan Khusus Laki-laki:
• Memakai pakaian yang berjahit sesuai bentuk tubuh (seperti baju, celana, dan sebagainya).
• Menutup kepala dengan apapun yang melekat di kepala (topi, peci, sorban, dan lain-lain).
• Memakai alas kaki yang menutupi mata kaki (harus memakai sandal yang terbuka).
Larangan Khusus Perempuan:
• Memakai cadar (niqab) yang menutupi wajah.
• Memakai sarung tangan.
Jika seseorang melanggar larangan ihram, ada beberapa konsekuensi hukum yang perlu diketahui. Pelanggaran yang berkaitan dengan larangan seperti memakai wewangian, memotong rambut, atau memakai pakaian berjahit (jika ada uzur), mewajibkan pembayaran fidyah berupa salah satu dari: menyembelih seekor kambing, berpuasa tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin. Sementara itu, melakukan jima’ sebelum tahallul pertama dapat membatalkan umroh dan mewajibkan dam yang lebih berat.
Tips Agar Ibadah Umroh Lebih Khusyuk dan Optimal
Selain memahami tata cara umroh secara teknis, ada beberapa tips penting yang bisa membantu Anda menjalankan ibadah dengan lebih baik dan khusyuk:
1. Pelajari dan Hafal Doa-doa Penting — Sebelum berangkat, hafalkan doa-doa yang akan dibaca saat thawaf, sa’i, dan momen-momen penting lainnya. Memiliki buku panduan doa kecil yang mudah dibawa juga sangat membantu.
2. Jaga Kondisi Fisik dan Kesehatan — Ibadah umroh membutuhkan fisik yang prima. Pastikan kondisi kesehatan Anda baik sebelum berangkat. Konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan bawa obat-obatan pribadi yang diperlukan.
3. Kenali Lokasi dan Denah Masjidil Haram — Masjidil Haram adalah masjid terbesar di dunia. Kenali denah dan lokasi-lokasi penting seperti pintu masuk, tempat sa’i (Mas’a), toilet, dan tempat penyimpanan alas kaki agar tidak tersesat.
4. Manfaatkan Waktu Sebaik-baiknya — Selain melaksanakan rangkaian ritual umroh, manfaatkan setiap saat di Tanah Suci untuk ibadah tambahan: shalat berjamaah di Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa. Setiap langkah di Masjidil Haram bernilai ibadah yang besar.
5. Jaga Adab dan Akhlak — Tanah Suci adalah tempat yang penuh kemuliaan. Jagalah lisan, hindari pertengkaran, bersabar dalam keramaian, dan selalu bersikap hormat kepada sesama jamaah dari berbagai penjuru dunia.
6. Bergabung dengan Agen Umroh Terpercaya — Bagi jamaah Indonesia, bergabung dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) yang resmi dan terdaftar di Kementerian Agama sangat dianjurkan. PPIU yang baik akan membantu Anda dalam bimbingan manasik, akomodasi, transportasi, dan pemantauan selama di Tanah Suci, sehingga Anda bisa fokus pada ibadah.
7. Niatkan dengan Ikhlas — Di atas semua persiapan teknis dan fisik, hal yang paling utama adalah meluruskan niat. Niatkan umroh semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk pamer, mendapat pujian, atau tujuan duniawi lainnya. Niat yang ikhlas adalah fondasi diterimanya sebuah ibadah.
Kesimpulan
Memahami tata cara umroh yang benar dan lengkap sesuai sunnah Rasulullah SAW adalah kewajiban setiap Muslim yang berniat menunaikan ibadah mulia ini. Dimulai dari persiapan ihram di miqat, pengucapan niat dan talbiyah, pelaksanaan thawaf tujuh putaran, sa’i antara Shafa dan Marwah, hingga diakhiri dengan tahallul — setiap langkah memiliki makna spiritual yang mendalam dan tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ibadah umroh bukan sekadar perjalanan wisata religi biasa. Ini adalah kesempatan langka untuk membersihkan diri dari dosa, memperbaharui iman, dan membangun kedekatan yang lebih dalam dengan Allah SWT. Oleh karena itu, persiapkan diri Anda dengan sebaik-baiknya: pelajari manasik umroh secara menyeluruh, jaga kesehatan fisik dan mental, luruskan niat, dan pilihlah penyelenggara perjalanan umroh yang amanah dan terpercaya.
Semoga panduan tata cara umroh lengkap ini bermanfaat bagi Anda dan keluarga dalam mempersiapkan perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Semoga Allah SWT memudahkan langkah-langkah kita menuju Baitullah, menerima seluruh amal ibadah kita, dan menganugerahkan predikat umroh yang mabrur. Labbaikallahumma labbaik. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.