Sa’i merupakan salah satu rukun ibadah umroh dan haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jamaah. Ritual ini mengabadikan kisah perjuangan Siti Hajar yang berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Bagi jutaan jamaah yang setiap tahunnya melaksanakan ibadah di Tanah Suci — baik dalam rangka umroh maupun wisata religi dan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah — memahami bacaan doa saat sa’i secara lengkap dan benar adalah hal yang sangat penting. Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif agar ibadah sa’i Anda lebih khusyuk, bermakna, dan sesuai tuntunan syariat Islam.
Apa Itu Sa’i dan Mengapa Doa Sangat Penting di Dalamnya
Sa’i secara bahasa berarti “berjalan cepat” atau “berusaha”. Secara istilah syariat, sa’i adalah berjalan kaki (atau berlari-lari kecil) sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah di Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah. Ibadah ini dimulai dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah, sehingga perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, dan dari Marwah kembali ke Shafa dihitung putaran kedua, begitu seterusnya hingga tujuh putaran.
Sa’i merupakan rukun haji dan umroh yang tidak boleh ditinggalkan. Dalilnya terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 158: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.”
Dalam pelaksanaan sa’i, tidak ada bacaan doa yang bersifat wajib dalam artian membatalkan sa’i jika ditinggalkan. Namun, membaca doa-doa tertentu selama sa’i sangat dianjurkan (sunnah) karna momen ini adalah waktu yang mustajab untuk bermunajat kepada Allah SWT. Para ulama dan ahli fiqih menekankan bahwa sa’i yang dilakukan sambil berdoa dengan penuh kekhusyukan akan mendatangkan keberkahan yang jauh lebih besar. Oleh sebab itu, persiapkan hafalan doa-doa ini sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Persiapan Sebelum Memulai Sa’i
Sebelum memulai sa’i, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh jamaah:
1. Pastikan Thawaf Telah Selesai
Sa’i dilaksanakan setelah thawaf. Baik thawaf qudum (thawaf kedatangan), thawaf umroh, maupun thawaf ifadah, semuanya harus diselesaikan lebih dahulu sbelum sa’i dimulai. Ini adalah urutan yang disepakati para ulama.
2. Kondisi Suci dari Hadats
Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa bersuci (berwudhu) bukan syarat sah sa’i, namun mayoritas ulama menganjurkan agar jamaah dalam keadaan suci saat melaksanakan sa’i. Hal ini untk menjaga kesucian dan kekhusyukan ibadah.
3. Mulai dari Bukit Shafa
Sa’i wajib dimulai dari bukit Shafa. Jika dimulai dari Marwah, maka putaran pertama tersebut tidak dihitung dan sa’i harus dimulai ulang dari Shafa.
4. Niat Sa’i
Niat sa’i dibaca dalam hati ketika berada di bukit Shafa sebelum memulai perjalanan menuju Marwah. Niatnya adalah:
“Nawaitu as-sa’ya baina ash-Shafa wal-Marwah sab’ata asywaatin lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya niat sa’i antara Shafa dan Marwah tujuh putaran karena Allah Ta’ala.”
Doa di Bukit Shafa (Awal Sa’i)
Ketika jamaah telah berada di atas atau mendekati bukit Shafa dan siap memulai sa’i, bacalah doa berikut ini. Rasulullah SAW sendiri membaca doa ini saat memulai sa’i, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih Muslim.
Pertama, bacalah ayat Al-Qur’an berikut:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Innash-Shafa wal-Marwata min sya’a’irillah.”
Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Abda’u bima bada’allahu bihi” — “Aku mulai dengan apa yng Allah mulai dengannya.” Lalu beliau menghadap ke arah Ka’bah dan membaca:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.”
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji milik Allah.”
Dilanjutkan dengan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. La ilaha illallah wahdah, anjaza wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzaba wahdah.”
Artinya: “Tidak ada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan selain Allah semata, Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan musuh seorang diri.”
Doa di atas dibaca sebanyak tiga kali setiap kali berada di bukit Shafa maupun Marwah. Di antara tiga kali pembacaan tersebut, sisipkan doa-doa pribadi sesuai hajat Anda kepada Allah SWT.
Doa Selama Perjalanan Sa’i (Dari Shafa Menuju Marwah dan Sebaliknya)
Di antara perjalanan dari Shafa ke Marwah atau sebaliknya, tidak ada doa khusus yang ditetapkan secara baku dari hadits shahih. Nii berarti jamaah diberikan kebebasan untuk berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau mengucapkan doa apa pun yang dikehendaki. Namun, para ulama dan para ahli ibadah telah merumuskan beberapa bacaan yang dianjurkan berdasarkan hadits-hadits yang ada, serta amalan yang lazim dilakukan oleh generasi salafus shalih.
Berikut adalah bacaan dzikir dan doa yang dapat dibaca selama perjalanan sa’i:
Dzikir Pertama (dibaca berulang-ulang):
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا لَا نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
“Rabbighfir warham wa’fu wa takarram wa tajawaz ‘amma ta’lam, innaka ta’lamu ma la na’lam, innaka antallahul a’azzul akram.”
Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, muliakanlah aku, dan lewatkanlah (kesalahanku) dari apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau adalah Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Dermawan.”
Dzikir Kedua (bacaan umum yang dianjurkan):
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
“Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar, wa la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.”
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Doa Memohon Ampunan dan Keselamatan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal ‘afiyata fid dunya wal akhirah.”
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.”
Doa Saat Berlari Kecil (Antara Dua Lampu Hijau)
Di dalam area sa’i, terdapat dua tanda lampu hijau yang menandai batas tempat berlari kecil (harwala). Tradisi berlari kecil di antara dua titik ini hanya berlaku untuk jamaah laki-laki, sementara perempuan cukup berjalan biasa. Titik ini merepresentasikan lembah yaang dulunya terletak di antara Shafa dan Marwah, tempat Siti Hajar berlari-lari dengan lebih cepat agar putranya yang terbaring di lembah tidak lepas dari pandangannya.
Saat melewati area antara dua tanda hijau ini, jamaah laki-laki dianjurkan berlari-lari kecil sambil membaca:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
“Rabbighfir warham wa tajawaz ‘amma ta’lam, innaka antal a’azzul akram.”
Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah, sayangilah, dan lewatkanlah (kesalahanku) dari apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mulia lagi Maha Dermawan.”
Bacaan ini bisa diulang-ulang sepanjang area berlari kecil tersebut. Jika tidak hafal, jamaah tetap boleh berdoa dalam bahasa apa pun atau cukup berdzikir dengan kalimat-kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Doa di Bukit Marwah
Ketika tiba di bukit Marwah setelah menyelesaikan satu putaran dari Shafa, jamaah menghadap ke arah Ka’bah dan membaca doa yang sama seperti saat berada di bukit Shafa. Doa ini diulang setiap kali jamaah tiba di Shafa maupun Marwah:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.”
Dilanjutkan tiga kali dengan:
“La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. La ilaha illallah wahdah, anjaza wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzaba wahdah.”
Di antara setiap pengulangan doa tersebut, jamaah dianjurkan untuk berdoa secara pribadi — memohon hajat dunia dan akhirat, memohon kesehatan, keberkahan rezeki, keselamatan keluarga, dan segala sesuatu yng menjadi kebutuhan. Inilah salah satu momen paling mustajab dalam seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Tips Praktis Agar Doa Saat Sa’i Lebih Khusyuk
Menghafal dan mengamalkan doa-doa sa’i membutuhkan persiapan yang matang. Berikut beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan, terutama bagi jamaah yang baru pertama kali melaksanakan ibadah umroh atau haji:
1. Hafalkan Doa Sebelum Berangkat
Jangan menunggu tiba di Makkah baru mulai menghafal. Mulailah berlatih membaca doa-doa sa’i jauh hari sebelum keberangkatan. Gunakan buku panduan ibadah atau aplikasi digital terpercaya yang memuat bacaan Arab beserta terjemahannya.
2. Gunakan Buku Panduan Kecil
Bawa buku panduan doa sa’i yang berukuran kecil agar mudah dibawa saat melaksanakan ibadah. Banyak jamaah yang memilih buku saku doa umroh dan haji agar bisa terus membaca meski belum hafal sepenuhnya.
3. Manfaatkan Aplikasi Digital
Di era digital ini, tersedia banyak aplikasi panduan ibadah haji dan umroh yang bisaa diunduh di smartphone Anda. Pastikan data tersimpan offline agar bisa diakses tanpa jaringan internet.
4. Fokus pada Makna Doa
Jangan sekadar membaca tanpa mengerti artinya. Pahami makna setiap doa agar hati benar-benar hadir dan khusyuk saat bermunajat kepada Allah SWT. Kekhusyukan nii yang menjadikan sa’i Anda bernilai tinggi di sisi Allah.
5. Jaga Kondisi Fisik
Sa’i dilaksanakan tujuh kali bolak-balik antara Shafa dan Marwah dengan total jarak sekitar 3,15 kilometer. Pastikan kondisi fisik Anda prima. Gunakan alas kaki yang nyaman dan bawa air minum secukupnya. Bagi jamaah lansia atau yang memiliki kondisi kesehatan khusus, tersedia kursi roda yang bisa digunakan tanpa mengurangi keabsahan sa’i. Hal ini sejalan dengan tips haji untuk lansia yang selalu ditekankan oleh para pembimbing ibadah.
6. Hindari Keramaian Berlebih
Pilih waktu sa’i yang tidak terlalu padat, misalnya di luar waktu puncak thawaf. Dengan suasana yang lebih lengang, Anda bisa berkonsentrasi penuh pada doa dna dzikir tanpa terganggu kerumunan.
Hubungan Sa’i dengan Semangat Wisata Religi di Tanah Suci
Bagi banyak jamaah Indonesia, perjalanan ke Makkah bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga merupakan bagian dari wisata religi dan ziarah yang sarat makna historis dan spiritual. Sa’i antara Shafa dan Marwah adalah salah satu titik ziarah penting di Makkah yang menyimpan kisah keimanan luar biasa dari Siti Hajar — seorang perempuan yang dengan penuh tawakkal berlari-lari mencari pertolongan Allah demi keselamatan putranya.
Saat Andaa menginjakkan kaki di area sa’i yang kini telah menjadi bagian dari kompleks Masjidil Haram yang megah, bayangkanlah betapa panjang sejarah tempat ini. Bukit Shafa dan Marwah yang dahulu berdiri di bawah terik matahari gurun kini telah dikelilingi oleh bangunan modern dengan fasilitas pendingin udara, lantai marmer, adn eskalator untuk memudahkan jamaah. Namun, esensi spiritualnya tetap sama: ini adalah tempat di mana doa-doa dipanjatkan, air zam-zam memancar, dan keimanan diuji sekaligus dikuatkan.
Bagi jamaah yang merencanakan wisata religi dan ziarah di Makkah, luangkan waktu untuk merenungi setiap langkah sa’i Anda. Setiap putaran adalah pelajaran tentang ikhtiar dan tawakal, tentang bagaimana seorang hamba tidak boleh berhenti berusaha sambil terus berharap hanya kepada Allah SWT.
Doa Setelah Menyelesaikan Sa’i
Setelah menyelesaikan tujuh putaran sa’i dan tiba di bukit Marwah untuk terakhir kalinya, jamaah dianjurkan membaca doa penutup sa’i. Tidak ada doa khusus yang secara tegas disunnahkan setelah sa’i dalam hadits shahih, namun para ulama menganjurkan untuk membaca hamdalah dan bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang diberikan-Nya.
Berikut doa yang bisa dibaca setelah menyelesaikan sa’i:
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
“Allahumma taqabbal minna innaka antas sami’ul ‘alim. Allahumma aj’alhu hajjan mabrura wa sa’yan masykura wa dzanban maghfura.”
Artinya: “Ya Allah, terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dan dosa yang diampuni.”
Meskipun kalimat di atas menyebut “haji”, doa ini juga relevan untuk jamaah umroh dengan menyesuaikan konteksnya. Yang terpenting adalah memohon kepada Allah agar seluruh rangkaian ibadah diterima dan memberikan dampak positif pada kehidupan kitaa setelahnya.
Kesimpulan
Sa’i antara Shafa dan Marwah adalah rukun ibadah yang penuh dengan dimensi spiritual dna historis yang mendalam. Memahami dan mengamalkan bacaan doa saat sa’i secara benar dan khusyuk adalah bentuk kesungguhan seorang hamba dalam memanfaatkan setiap momen berharga di Tanah Suci. Mulai dari doa pembuka di bukit Shafa, dzikir dna doa selama perjalanan, bacaan saat berlari kecil di antara dua tanda hijau, hingga doa di bukit Marwah — setiap elemen memiliki nilai ibadah yang tinggi jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan penuh kehadiran hati.
Bagi Anda yaang sedang mempersiapkan keberangkatan umroh atau haji, jadikan artikel ini sebagai bagian dari persiapan ilmu Anda. Hafalkan doa-doa ini jauh sebelum berangkat, pahami maknanya, dan hayati setiap langkah sa’i sebagai bentuk penghambaan diri keapda Allah SWT. Ingat pula bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan wisata religi dan ziarah jiwa yang akan membentuk karakter, mempertebal keimanan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah ktia dan memanggil kita kembali ke Baitullah-Nya berkali-kali. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.